Showing posts with label isu-isu sosial budaya pendidikan. Show all posts
Showing posts with label isu-isu sosial budaya pendidikan. Show all posts

Proaktif Dalam Pendidikan Anak


Manusia merupakan makhluk berpengetahuan dan kenapa begitu ia lahir disambut oleh keluarganya dengan suka cita. Memang pada kasus tertentu ada kelahiran seorang anak yang tidak dikehendaki dan ini biasanya terkait dengan status sosial yang tidak jelas sebagai akibat perbuatan diluar pernikahan. Namun bisa dipastikan anak yang lahir diluar pernikahan dan dibuang di tempat tertentu oleh ibunya dapat kita pahami sebagai fakta bahwa sesungguhnya anak tersebut disayangi. Ia “dibuang” karena takut dengan sanksi sosial yang akan dia hadapi. Ibarat sebuah syair lagu ini adalah “sebuah keterpaksaan saja”. 

Kembali ke hakekat manusia, seorang anak lahir ke muka bumi ini sebagai makhluk berpengetahuan, Suhartono mengatakan bahwa manusia lahir dengan potensi kodratnya berupa cipta (kemampuan memperoleh nilai kebenaran), Rasa (kemampuan mempersoalkan nilai keindahan) dan Karsa (kemampuan mempersoalkan kebaikan). 

Dari ketiga nilai tersebut dibingkai dalam satu ikatan sistem, dijadikan landasan dasar untuk mendirikan filsafat hidup, menentukan pedoman hidup, dan mengatur sikap dan perilaku hidup agar senantiasa terarah kepencapaian tujuan hidup. 

Maka tidak salah jika banyak orang dewasa benar-benar percaya bahwa anak-anak adalah masa depan kita. Pada akhirnya kita pun memiliki kekuatan dalam mendidik anak-anak untuk mengajarkan nilai-nilai apa saja yang harus mereka ketahui agar kelak menjadi pemimpin muda yang penuh kesungguhan dan inovatif, membantu mereka menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran, dan kemampuan berpikir di luar kebiasaan. Jika kita ingin mengubah wajah dari masyarakat kita di masa depan dengan mengubah seorang anak, ikutilah langkah-langkah berikut ini, sebagaimana dinarasikan dalam https://id.wikihow.com berikut ini 

Pertama, perlihatkan kepada anak Anda kekuatan menjadi relawan. Anak Anda tidak pernah terlalu muda untuk menjadi relawan di komunitas Anda, bahkan jika yang dapat ia lakukan hanyalah tersenyum kepada orang yang membutuhkan bantuan. Jangan biarkan anak-anak Anda berpikir bahwa menjadi relawan hanyalah sekadar tindakan yang harus mereka lakukan untuk memperbanyak isian aplikasi pendaftaran mereka ke universitas tetapi ajarkan juga kepada mereka tentang pentingnya membantu komunitas sesering mungkin. 

Ada begitu banyak cara untuk menyumbangkan waktu Anda, baik itu dengan bergabung dalam penggalangan makanan kaleng, menghabiskan beberapa jam seminggu di rumah jompo, atau menjadi relawan di dapur umum. Jadilah relawan sesering mungkin dan ajaklah anak Anda agar ia dapat ikut berpartisipasi. 

Kedua, tunjukkan bagaimana orang-orang di berbagai lapisan kehidupan masyarakat kepada anak Anda. Jika anak Anda hanya terbiasa berada di sekitar masyarakat berkulit putih kelas atas, atau masyarakat Tionghoa kelas menengah, atau masyarakat apa pun yang ada di sekitar Anda, ia tidak akan memiliki kesadaran mengenai adanya keragaman budaya, status sosial ekonomi, dan ras yang sudah memberikan kontribusi atas berjalannya kehidupan ini. Berusahalah membawa anak Anda keluar dari zona nyamannya sampai ia merasa bisa bergaul dengan siapa saja di mana saja. 

Banyak orang tidak terekspos kepada masyarakat dengan ras atau kelas yang berbeda sampai mereka masuk kuliah; jangan biarkan anak Anda menunggu selama itu. 

Ketiga, bepergianlah dengan anak Anda sesering mungkin. Bukan berarti Anda harus membawa anak Anda berlibur di Prancis setiap musim panas tetapi ini berarti Anda harus bepergian sesering mungkin ke berbagai kota, negara bagian, atau bahkan negara, jika anggaran Anda mencukupi. Biarkan anak Anda melihat bahwa ada banyak tipe orang di dunia ini; mereka mungkin terlihat berbeda dan berbicara dalam bahasa yang berbeda, namun di dalam hatinya, semua orang sebenarnya tidak terlalu berbeda satu sama lain. 

Jika anak Anda menyadari banyaknya ragam gaya hidup dan budaya sejak dini, ia tidak akan tumbuh menjadi seseorang yang memisahkan budaya-budaya di dunia ini menjadi kebudayaan "kami" dan "mereka." 

Keempat, doronglah anak Anda untuk mensyukuri semua yang ia miliki. Memikirkan sejenak apa yang benar-benar ia syukuri bukanlah tindakan yang dilakukan hanya pada perayaan tertentu. Anak Anda harus menyusun "daftar hal yang disyukuri" setidaknya seminggu sekali, mungkin sebelum tidur, sehingga ia selalu memikirkan semua hal yang ada untuk disyukuri seperti keluarga yang saling menyayangi, makanan enak di atas meja, atap di atas kepalanya, dan semua hal yang tidak dimiliki oleh banyak orang di dunia ini. 

Jika anak Anda memiliki kebiasaan menyebutkan daftar ini seperti halnya mantra, maka ia akan terbiasa untuk bersyukur. 

Kelima, buatlah anak Anda peka terhadap kejadian-kejadian yang sedang berlangsung. Meskipun Anda tidak suka jika harus memberikan kesempatan anak Anda menonton berita mengenai pembunuhan atau genosida saat usianya masih tiga tahun, Anda harus menciptakan kebiasaan menonton berita yang relevan atau membaca koran dengan anak Anda sedini mungkin agar ia memiliki kesadaran akan isu domestik dan internasional yang lazim terjadi di dunia. 

Buatlah agar berita tersebut mudah dipahami. Bicarakan dengan anak Anda apa yang Anda baca atau lihat dan diskusikan betapa salahnya hal-hal tersebut dan mengapa. 

Biarkan anak Anda mengerti bahwa kehidupan di dunia ini tidak sesederhana hitam atau putih. Seperti keputusan apakah Amerika Serikat harus menyerbu Suriah atau tidak, peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini susah ditentukan benar atau salahnya. 

Keenam, doronglah anak Anda untuk menyadari keberadaan negara-negara lain. Bahkan jika anggaran Anda tidak mencukupi untuk bepergian ke luar negeri, anak Anda harus memiliki globe dan beberapa buku mengenai negara lain sedini mungkin. Sebagai permulaan, Anda bisa sekadar bermain dengan anak Anda, membantunya menghafal ibu kota dan bendera setiap negara. Seiring bertambahnya usia anak, Anda bisa membicarakan hubungan antar negara dan pentingnya rasa saling menghormati antar negara. 

Membantu anak Anda mengembangkan kesadaran mengenai keberadaan negara lain akan membuat anak Anda melihat negaranya tidak sebagai pusat dari alam semesta. Hal ini akan memengaruhi anak Anda dalam mengambil keputusan yang lebih adil dan bijaksana di kemudian hari. 

Dan ketujuh, bacakan anak Anda bacaan nonfiksi. Walaupun membacakan buku apa pun pada anak Anda merupakan hal yang penting untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritisnya, Anda tidak harus membacakannya cerita fiksi saja begitu ia memasuki usia tertentu. Meskipun ada banyak pesan baik dari kisah legenda atau dongeng, Anda bisa juga membacakan bacaan nonfiksi ringan pada anak Anda, baik untuk mengajarkannya berbagai jenis hewan, atau kisah tentang negara-negara lain. 

Mengajarkan anak Anda lebih banyak tentang kehidupan nyata bisa membangun kesadarannya.

Kiat Sederhana dalam Meningkatkan Performa Belajar

Setiap orang mempunyai cara-cara tersendiri dalam belajar. Namun demikian, tidak banyak orang yang cukup paham bagaimana belajar yang baiik, baik dalam arti efektif dan efisien. Seperti apakah belajar yang efektif dan efisien itu? Adakah trik-trik sederhana yang bisa kita adaptasi dikeseharian kita agar kian hari menjadi lebih baik? 

Untuk lebih cepat beradaptasi pada lingkungan yang cepat berubah yang kita tinggali, kita perlu belajar lebih efektif dan efisien. Anda bisa membantu otak Anda menyerap informasi lebih akurat dan efisien, terkadang cukup dengan mengubah cara Anda memelihara tubuh. Anda juga bisa menggunakan beberapa trik belajar yang mudah, yang akan membuat Anda merasa lebih pintar dengan cepat. 

1. Dapatkan tidur yang cukup. 
Seringkali, tidak ada yang salah mengenai Anda atau bagaimana Anda belajar: hanya saja otak Anda tidak bisa mempertahankan informasi karena tubuh Anda tidak memperoleh sesuatu yang Anda perlukan. Seringkali yang ia perlukan adalah tidur. Anda harus memastikan tubuh Anda mendapatkan tidur yang banyak jika Anda ingin otak Anda siap menyerap informasi. Hanya minum satu cangkir kopi tambahan tidak cukup. Ini berarti Anda harus berhenti belajar hingga larut malam. Lebih baik, tidur awal, dapatkan beberapa jam tidur, lalu bangun awal agar Anda bisa lebih banyak belajar dengan otak yang sudah beristirahat cukup. 

Penelitian membuktikan bahwa saat kita tidur, otak dibersihkan dengan cairan yang membuang toksin. Saat kita tidak cukup tidur, otak kita terlalu dipenuhi sampah sehingga sulit berfungsi dengan benar. 

Tidur berapa lama bergantung pada Anda dan tubuh Anda. Tujuh sampai delapan jam biasanya disarankan bagi kebanyakan orang dewasa, namun beberapa orang memerlukan lebih sedikit dan beberapa orang membutuhkan lebih banyak. Anda seharusnya bisa merasa tidak mengantuk dan siap sepanjang hari, tanpa bantuan kopi. Jika Anda ngantuk sebelum jam empat atau lima sore, kemungkinan Anda tidak cukup tidur (atau mungkin terlalu banyak). 

2. Makan cukup. 
Saat Anda lapar, otak Anda akan kesulitan menyerap informasi apapun. Sulit untuk fokus saat tubuh Anda hanya bisa memberitahu Anda bahwa perut Anda kosong. Pastikan Anda makan cukup untuk semua waktu makan penting. Anda bahkan bisa memiliki kudapan sehat untuk disantap selagi Anda belajar dan juga saat dalam kelas atau mengambil tes. 

Merupakan ide bagus juga untuk memastikan Anda mengonsumsi makanan sehat. Makanan ringan tidak memberikan tubuh Anda nutrisi yang diperlukan untuk berfungsi dengan terbaik. Santap beberapa kacang almond atau wortel agar terasa siap dan fokus, dari pada kembung dan ngantuk. 

3. Minum air yang cukup. 
Tubuh Anda dalam kondisi terbaik saat terhidrasi dengan baik. Saat Anda tidak mendapatkan air cukup, Anda tidak akan mampu fokus. Anda akan mudah terganggu, sadar ataupun tidak, oleh kehausan Anda. Ini bahkan bisa mengarah pada hal seperti sakit kepala, membuat Anda lebih sulit belajar. 

Tubuh berbeda membutuhkan jumlah air berbeda untuk tetap terhidrasi. “Delapan gelas sehari” yang disarankan merupakan estimasti kasar. Cara terbaik untuk mengetahui apakah Anda mendapatkan air yang cukup adalah melihat warna air kencing Anda. Jika pucat atau bening, Anda minum cukup. Jika lebih gelap berarti Anda membutuhkan lebih banyak air. 

4. Berolahraga. 
Pastinya Anda tahu bahwa olahraga baik untuk tubuh Anda dalam banyak cara, namun apakah Anda tahu bahwa olahraga juga bisa membantu Anda belajar lebih cepat? Beberapa penelitian telah menemukan bahwa olahraga ringan sambil belajar bisa membantu Anda belajar lebih cepat. Untuk orang yang sangat aktif secara fisik, dipaksa diam terlalu lama juga bisa membuat tetap fokus sangat sulit, jadi berolahraga sambil belajar juga bisa bermanfaat dengan cara itu. 

Contohnya, cobalah berjalan-jalan di ruangan besar sambil Anda membaca buku teks. Rekam ceramah kelas dan dengarkan rekamannya sambil Anda menggunakan mesin elliptical di gym. Ada banyak pilihan. Ingat saja untuk berolahraga ringan dan melakukannya sambil belajar. 

5. Ajari otak Anda untuk belajar. 
Belajar cepat merupakan kebiasaan dan Anda mungkin perlu berusaha dan melatih ulang otak Anda melakukan kebiasaan baik bukan yang buruk. Tingkatkan fokus Anda dengan melakukan tugas kompleks tanpa istirahat (walaupun tidak berhubungan). Sisishkan waktu dan tempat khusus untuk belajar dan pelihara tempat itu. Mungkin paling penting, cari cara untuk membuat belajar menyenangkan untuk Anda. Ini akan membuat otak Anda ingin melakukan lebih dan Anda tidak akan begitu kesulitan belajar. 

Contohnya, pelajari subjek yang Anda senangi. Nantinya, otak Anda akan menguasai kemampuan belajar dan Anda bisa menggunakan kemampuan itu pada area subjek yang tidak Anda senangi juga. 

Demikian kiat sederhana upaya meningkatkan proses belajar yang efektif dan efisien. Dan, sebagai makhluk pembelajar, kiat yang sebagaimana dideskripsikan di atas, kiranya bisa dipraktikkan dan dirasakan bagaimana hasilnya. 

Wallahu ‘alam bissawab! 

Artikel dikutif dari https://id.wikihow.com

Menghebatkan Pendidik Ala Sang Profesor



Prof.Dr.M.Jufri, M.Psi meracik 11 jurus ampuh menjadikan guru hebat, yang hasil racikannya banyak dikutif banyak orang. Hal ini wajar karena bukan hanya guru tapi juga masyarakat luas yang menginginkan banyaknya sosok pendidik yang hebat, mumpuni, baik secara akademik, sikap, dan perilakunya. Dan karena itu ia akan berdampak positif lahirna peserta didik yang luar biasa. Selanjutnya peserta didik yang hebat akan menjadikan bangsa ini terhormat dan bermartabat.

11 Jurus Ampuh

Disini secara lengkap penulis kutif kesebelas racikan tersebut. Penulis lebih suka menyebutnya sebagai jurus menghebatkan guru dan peserta didiknya. Kesebelas jurus tersebut adalah
1. Ubah frame berfikir anda: pembelajaran bukan tentang bagaimana guru mengajar tapi bagaimana siswa belajar
2. Jangan hanya pelajari materi ajar tetapi pelajari pula anak didik anda,
3. Sampaikan tidak hanya dengan lisan tapi gunakan seluruh anggota tubuh untuk berkomunikasi,
4. Tunjukkan betapa mereka butuh belajar dan selalu ingatkan pentingnya belajar
5. Pastikan anda sudah mengaktifkan potensi VAK (visual, auditori, kinestetik) semua siswa
6. “Hukum durasi 20 menit” (sesuai penelitian siswa hanya mampu bertahan konsentrasi 20 menit, maka variasikan kegiatan setiap 20 menit)
7. Lakukan dialog bukan monolog,
8. Ajukan pertanyaan yg tepat kepada siswa
9. Tularkan emosi positif dan optimis di depan siswa
10. Bimbinglah anak dengan cara mereka belajarnya sendiri. Bukan anak tidak mau belajar tapi anak belum menemukan cara belajar yang sesuai untuknya.
11. Tampillah menarik di depan siswa. Tidak hanya dalam pakaian tetapi terus menampilkan kepribadian yang menarik.

Memang mudah untuk sekedar menyebutkan, namun sesungguhnya secara realitas jurus-jurus di atas sulit untuk diperaktikkan. Kita tidak boleh berhenti untuk menggelorakan pemikiran Prof.Dr.M.Jufri, M.Psi ditengah-tengah kondisi pendidikan yang masih jauh dari kata kondusif, dimana pendidik dan peserta didiknya merasa aman dan nyaman dalam kegiatan pembelajaran. Harapan lahirnya pendidik hebat sesungguhnya merupakan mimipi besar bangsa Indonesia ditengah kondisi kehidupan para pendidik yang masih jauh dari kata sejahtra secara nasional.  


Pendidikan Kontra Terorisme dan Radikalisme

hemteiz
Atas peristiwa peledakan bom oleh pelaku teror di tiga gereja, rusunawa, dan di markas kepolisian di Surabaya, Jawa Timur, kita bukan sekadar prihatin melainkan turut mengutuk serta berharap kejadian ini cukup sebagai kejadian yang terakhir karena telah melukai begitu dalam nilai-nilai kehidupan yang sejatinya bukan dimusnahkan tapi dimuliakan. 

Yang kemudian membuat banyak orang tidak habis pikir, kenapa pelaku terorisme ini melibatkan anak-anak. Mungkin dari perspektif pelaku hal ini dilakukan secara sengaja karena tidak mungkin anak-anaknya dijadikan “yatim piatu” dan didik oleh orang lain, yang dari sudut pandangnya, berbeda idiologi. Pertanyaannya kemudian bagaimana menghadirkan Pendidikan kontra terorisme dan radikalisme sehingga sejak dini anak-anak sudah memiliki pengertian dan pemahaman yang cukup terhadap bahaya terorisme dan daya rusak radikalisme terhadap kehidupan? 

Kontra Terorisme 

Dalam menyikapi terorisme, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) Ubaidillah Amin menyampaikan pendapat, seperti yang dilansir laman Tribun, 10/5/2018, soal terorisme pemerintah harus fokus di lembaga pendidikan umum, Mendikbud dan Menristekdikti harus membuat strategi gerakan deradikalisasi secara konkret, tak cukup dengan pendekatan hukum seperti saat ini. Benih-benih radikalsime itu dijejalkan dari usia muda. 

Oleh karena itu kita mengapresiasi seruan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui akun instragram resminya mengajak pihak sekolah untuk berperan aktif dalam melawan bahaya terorisme. Dikutip dari @ kemdikbud.ri, guru dan kepala sekolah dapat mengajak siswa untuk melakukan beberapa hal berikut: 

1. Sediakan waktu bicara pada siswa tentang kejahatan terorisme. Siswa sering menjadikan guru tempat mencari informasi dan pemahaman tentang apa yang sedang terjadi. 

2. Bahas secara singkat apa yang sedang terjadi meliputi fakta-fakta yang telah terverifikasi. Jangan membuka ruang terhadap rumor, isu, dan spekulasi. 

3. Beri kesempatan siswa untuk mengungkapkan perasaannya tentang tragedi/kejahatan yang terjadi. Nyatakan dengan jelas rasa duka kita terhadap para korban dan keluarganya. Baca juga: UGM: Medsos Bisa Jadi Pemicu Depresi Remaja. 

4. Arahkan rasa kemarahan pada sasaran yang tepat yaitu pada pelaku kejahatan, bukan pada identitas golongan tertentu yang didasari pada prasangka. 

5. Kembali pada rutinitas normal. Terorisme akan sukses apabila mereka berhasil mempengaruhi kehiupan sehari-hari dan kehidupan kebangsaan kita. 

6. Ajak siswa berpikir positif. Ingatkan bahwa negara kita telah melewati banyak tragedi dan masalah dengan tegar, gotong royong, semangat persatuan dan saling menjaga. 

7. Ajak siswa berdiskusi dan mengapresiasi kerja para polisi, TNI, petugas kesehatan yang telah melindungi, melayani dan membantu kita di masa tragedi. Diskusikanlah lebih banyak tentang sisi kesiapan dan keberanian mereka daripada sisi kejahatan pelaku teror. 

Dalam mengatasi aksi terorisme dan radikalisme berbagai pendekatan harus dilakukan secara Bersama-sama. Terkait pendekatan lunak yang telah dilakukan oleh Indonesia, Jokowi menceritakan pengalaman pemerintah dalam menangani upaya deradikalisasi dan kontra radikalisasi di Indonesia. Di antaranya melibatkan para mantan narapidana terorisme yang telah insaf dalam pencegahan ancaman radikalisme dan terorisme. 

Selain itu, para mantan narapidana terorisme itu pun difasilitasi untuk bertemu dengan keluarga korban. Para mantan narapidana teroris tersebut saat ini membantu pemerintah dalam menyebarluaskan nilai-nilai toleransi dan perdamaian. 

“Mereka telah menjadi agen penyebaran toleransi dan nilai perdamaian. Dengan bantuan para mantan narapidana ini keluarga dan lingkungan mereka justru lebih mudah diubah menjadi lingkungan yang toleran dan damai," kata Jokowi bercerita. 

Dalam langkah pencegahan radikalisme dan terorisme, pemerintah juga bekerja sama dengan organisasi besar di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan juga Muhammadiyah. Presiden pun berharap kerjasama pemberantasan terorisme dan radikalisme ini dapat terus ditingkatkan. "Saya berharap kerja sama untukpemberantasan radikalisme dan terorisme akan dapat terus ditingkatkan, baik melalui pendekatan keras maupun pendekatan lunak. Indonesia siap berkontribusi," ucap Jokowi. "Kegagalan pencegahan tidak saja akan menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian besar lainnya, namun juga memicu reaksi eksesif yang tidak perlu terjadi,” ujar dia. 

Referensi: 

- Tribun.com 

- Republika.co.id 

- @ kemdikbud.ri

Diskusi Minus Etika Pendidikan Berdiskusi

Isu-isu sosial budaya pendidikan
Diskusi
Dalam acara Indonesia Lawyers Club, ILC, yang digawangi Karni Ilyas di medio Maret 2018, mengambil tema "Mengintervensi KPK?". Para pakar hukum, politisi, dan aktivis pemberantasan korupsi hadir, diundang, meramaikan acara diskusi yang kiranya mendapat perhatian publik secara luas. 

Malam itu, sebagaimana di ILC yang sudah-sudah, kerap kita jumpai nara sumber yang menyampaikan pikiran-pikirannya secara menggebu-gebu menyerang individu dan lembaga tertentu. Yang tergelar akhirnya melenceng dari marwah diskusi: memperluas cakrawala pemikiran dan mengayakan khazanah ilmu pengetahuan. 

Tentunya beda berdebat dan berdiskusi. Dalam berdebat orang akan menyampaikan pikiran-pikirannya untuk menguasai dan memenangkan wacana dengan apa pun cara yang digunakannya, termasuk menyerang sisi kehidupan lawan bicaranya. 

Sementara itu dalam berdiskusi kita harus memerhatikan etika berdikusi. Dalam vidio.com, Selasa (9/5/2017), sebagaimana dikutif liputan 6 dengan judul "5 Etika dan Tata Krama Menyampaikan Pendapat pada Orang Lain", point-point yang harus diperhatikan dalam berdiskusi adalah sebagai berikut

Pertama, sampaikan pendapat Anda dengan cara yang sopan
Saat ingin mengungkapkan pendapat, sampaikan dengan kata-kata yang sopan dan santun. Tidak dengan kata-kata yang kasar yang disertai dengan makian sehingga akan menyakiti orang lain.

Kedua, ketahui kapasitas pengetahuan Anda
Sebelum menyampaikan pendapat, pastikan Anda tahu kapasitas dan pemahaman yang cukup tentang tema pendapat yang akan disampaikan. Hal ini untuk menghindari terjadinya perdebatan yang tidak sesuai dengan topik dan menimbulkan konflik.

Ketiga, memiliki dasar argumen yang kuat dan jelas
Sebaiknya Anda memiliki dasar argumen yang kuat dan jelas ketika menyampaikan pendapat. Lebih baik lagi jika Anda pun memiliki beberapa data dan fakta yang menunjang pendapat untuk disampaikan.

Keempat, tidak memotong pembicaraan lawan bicara. 
Jangan memotong pembicaraan lawan bicara Anda ketika akan menyampaikan pendapat. Biarkan lawan bicara menyampaikan pendapatnya hingga selesai dan jelas, lalu tanggapi pendapatnya setelah dipersilakan untuk bicara.

Kelima, tidak menyerang pribadi lawan bicara. Sebaiknya tidak menyerang pribadi lawan bicara Anda apabila tidak setuju dengan pendapat orang lain. Apalagi jika tidak berhubungan dengan topik diskusi. Hal ini tentu saja menjadi satu hal yang dapat memicu konflik bila dilakukan dalam sebuah diskusi.

Demikian etika dan tata krama yang harus diperhatikan dan dilakukan dalam menyampaikan pendapat kepada orang lain, yang merupakan cerminan untuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.
Baca juga, Bagimu Kebohongan dan Kedunguan 
Sekiranya, forumnya terbatas dan tidak live barangkali masyarakat awam tidak akan terdampak oleh pikiran-pikiran yang bisa menyesatkan. Oleh karena tidak ada seorang pun yang bisa mengontrol pikiran orang lain, maka disini dibutuhkan seorang host yang cerdas dalam mengontrol jalannya diskusi. 

Pelajaran berharganya adalah sejak dini, ketika anak berada pada usia sekolah, anak diajarkan bagaimana berdiskusi yang benar agar kelak ketika mereka menduduki jabatan politik tertentu dan sebagai publik figure benar-benar menjadi suri tauladan bagi generasi berikutnya.

Bagimu Kebohongan dan Kedunguan

Problem
Ada dua problem besar yang dihadapi oleh publik Indonesia saat ini, yakni kebohongan dan kedunguan atau kebodohan. Dua masalah ini sudah sedemikian kasat mata dan benar-benar meresahkan masyarakat yang cinta damai dan masyarakat yang mengapresiasi kecerdasan. 

Eksistensi hoax diproduksi karena secara natural dalam diri manusia ada sisi gelap seperti kebencian, ketidaksukaan, dan ketidakmampuan dalam menyikapi perbedaan. Dan hoax, semakin massif ketika instrumennya tersedia dan ada dalam satu genggaman tangan dan kian subur manakala dipolitisasi untuk kepentingan jangka pendek. 

Dalam hoax yang "dimainkan" adalah identitas sosial seseorang, baik individu atau kelompok. untuk menyerang individu atau kelompok-kelompok tertentu yang digunakan adalah identitas suku, agama, dan ras atau SARA. Caranya adalah dengan merendahkan martabat orang lain. Dampaknya kemudian menimbulkan kebencian dan perpecahan. 

Jika kondisi ini dibiarkan, lambat namun pasti, harmoni kebangsaan dan keindonesiaan kita akan terus terkoyak akibat kepicikan dan kedunguan yang terus dihembuskan. Jadi kondisi ini harus dilawan secara berjamaah. 

Soal Kebodohan 

Seturut dengan soal kebohongan akibat syahwat menebar kebencian di media-media sosial, masalah besar yang belum bisa kita tuntaskan sampai hari ini adalah kebodohan dan kedunguan. Kebodohan relatif lebih mudah diatasi ketimbang kedunguan. Kedunguan hanya terjadi pada mereka yang tidak mampu menempatkan kepintaran dan kecerdasannya bagi kemanusiaan, menjadi lebih cerdas dan berbudaya luhur, melainkan merendahkan karena ada ego kepentingan. 

Adalah Napoleon Bonaparte yang percaya bahwa kedunguan dalam politik bukanlah sebuah rintangan. Apa maksud dan tujuan ucapan Bonaparte, hanya dia dan Tuhan yang tahu. 

Untuk memahami secara utuh apa yang dikatakan Bonaparte, kita mesti menulusuri apa konteks dan setting sosial politik yang melatarbelakanginya, atau mudahnya, apa yang menjadi asbab nujulnya. 

Secara diksi memang artinya bisa bersayap, namun marilah kita maknai dari sisi yang positif. Dimana maksud dan tujuan dari frase bukanlah sebuah rintangan dalam berpolitik untuk sebuah kedungan, bahwa dalam kegiatan politik praktis sejatinya tidak membodohi orang lain dan menutup mata dan telinga terhadap aspirasi rakyat. Dan ketika politik dijadikan instrumen meraih kekuasaan hanya untuk mensejahtrakan dirinya dan kelompoknya serta buta-tuli atas apa yang diderita masyarakat maka itulah kedunguan atau dagelan yang sedang diperagakannya. 

Literasi 

Hoax dan kebodohan, salah satu cara efektif untuk mengatasinya, adalah melalu kegiatan literasi secara berkesinambungan. Dalam berkegiatan literasi yang terjadi bukan sekedar membaca dan menelan bulat-bulat informasi yang dibaca, melainkan menganalisa informasi lebih dalam, akan sejauh mana kebenarannya. 

Sejauh ini literasi belum menjadi sebuah budaya dalam konteks keindonesiaan kita. Oleh karena itu masyarakat mudah sekali termakan informasi hoax dan kedunguan. Butuh waktu, butuh kesabaran, dan kerja keras untuk mengatasi kondisi seperti ini. Sebab dilapangan masih kita jumpai, meski anggaran pendidikan kita 20 % dari APBN, ternyata belum mampu menaikan indeks literasi nasional. Menurut hasil riset UNESCO ,indeks minat baca Indonesia 0,0001 % yang artinya dari 1000 orang penduduk hanya satu orang serius membaca . Kemudian survei Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan minat baca anak anak Indonesia hanya 17,66 persen sementara minat nonton mencapai 91,66 persen. 

Dan masih ramainya akun yang menebar kebencian, terlebih di tahun krusial saat ini, tahun politik, begitu orang menyebutnya. 

Adakah solusinya? Solusi jangka pendek adalah penegakkan aturan dan hukum. Tutup akun-akun yang berpotensi meresahkan dan tindak secara tegas (hukum) tanpa tebang pilih pelaku-pelakunya. Tindakan represif ini sangat urgent, namun tidak membuat masyarakat menjadi lebih matang dan dewasa. Maka perlu upaya jangka panjang, yaitu penguatan kegiatan literasi untuk semua. Dan idealnya ini dimulai dari rapat-rapat anggota parlemen, kementrian, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia pendidikan. Di jagat pendidikan, adalah para guru dan dosen sebagai motornya dan suri tauladannya. 

Oleh: Muchsin Ismail

Menyoal Kecerdasan, Hindari Jebakan "Bat Man"

Kecerdasan
Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, mengupas tuntas ihwal kecerdasan. Baginya, kecerdasan itu memiliki banyak bentuk, mulai dari kecerdasan musikal, logis-matematis, gerak tubuh sampai dengan kecerdasan empatis dalam hubungan antar manusia.

Masyarakat Indonesia sampai hari ini, ketika melihat kecerdasan, masih cenderung ke arah kecerdasan logis-matematis. Namun memang pandangan ini mulai berkurang seturut dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi, dan arus deras informasi di wilayah publik Indonesia.

Entahlah, seakan mengamini cara pandang Gardner, kurikum kita, Kurikulum 2013 versi revisi 2017, dalam proses pembelajaran didalamnya sudah mengintegrasikan berbagai anasir kecerdasan, seperti penguatan pendidikan karakter, literasi, 4C, dan kecerdasan berpikir tingkat tinggi atau HOTs.

Masih butuh waktu untuk melihat out put dari penerapan K13 yang direvisi ulang pada 2017. Akan seperti apa kecerdasan yang dimiliki anak bangsa? Jawabannya bisa sepuluh, duapuluh, dan atau tigapuluh tahun mendatang. Dengan catatan pemerintah tidak buru-buru mengganti kurikulum yang sedang berlaku. Hendaknya tidak seperti yang sudah-sudah ganti menteri ganti kurikulum.

Kita sedang memasuki tahun penting dan krusial di tahun 2018 dan 2019 ini, sebab di tahun ini bangsa Indonesia melaksanakan pemilu kada serentak dan disusul pileg dan pilpres tahun 2019. Kemudian publik menyebutnya sebagai tahun politik.

Adalah penting bagi kita selaku masyarakat pemilih, ketika memilih calon tersedia, menimbang calon yang sedang bersaing apakah politisi tersebut memiliki kecerdasan politik (political intelligence) , diluar kecerdasan yang disebutkan oleh Gardner.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa mengenali politisi yang memiliki kecerdasan politik? Adalah Ellen Vrana, salah satu penulis politik asal AS, merumuskan lima ciri dari kecerdasan politik, yakni integritas, kesadaran diri, empati, strategi dan eksekusi. Ia memahami kecerdasan politik sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang, guna mewujudkan tujuan-tujuan tertentu.

Pertama, politisi yang di dalam dirinya terdapat sikap integritas, akan mampu bersikap jujur, adil, tidak menebar fitnah, memiliki prinsip, efektif dan efisien, dan berpihak pada kepentingan masyarakat banyak.

Kedua, politisi yang sadar diri, tentu saja dapat memahami dengan baik kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri.

Kerja seorang politisi adalah berbicara. Tapi politisii yang sadar diri, tahu kapan dia harus bicara dan kapan dia harus diam. Baginya berkomentar pada setiap hal tanpa berpijak pada data dan fakta, juga analisis yang dalam, hanya akan memerkeruh keadaan dan membuat gaduh.

Kesadaran diri akan melahirkan sikap tahu diri. Jika sudah terbukti korupsi atau tak lagi dipilih oleh rakyat, dengan kesadaran diri, orang lalu bisa mundur dari panggung politik dengan terhormat.

Ketiga, bagi siapapun memiliki sikap empati adalah penting. Empati adalah suatu kemampuan melihat dan merasakan dari sudut pandang orang lain. Ia dasar untuk bisa saling menghormati.

Politisi dengan empati yang tinggi akan mampu berdialog, berdebat, dan menghargai perbedaan pendapat secara elegan, bukan sebaliknya asal ngomong, menyerang, melecehkan, dan melakukan pembunuhan karakter, karena pijakannya adalah empati dan akal sehat.

Keempat, Strategi dan Eksekusi. Politisi yang meniliki kecerdasan politik adalah dia yang juga memiliki kemampuan berstrategi dan mengeksekusinya dengan baik.

Ia mampu merencakan kegiatan seraya mampu membaca dampak-dampak yang akan timbul dari kegiatan tersebut.

Dengan strategi yang bermutu, penelitian yang mendalam dan luas, serta ditunjang kajian ilmiah dengan pola pikir terbuka, bebas, rasional dan kritis, maka akan melahirkan kebijakan jangka panjang yang nyata dan bisa dirasakan manfaatnya secara bersama-sama mulai sejak kebijakan itu dieksekusi. 

lambat tapi pasti, dengan kelima ciri kecerdasan politik ini, citra perpolitikan kita akan semakin baik. Kerja politik pun akan menjadi kinerja yang sangat dihormati masyarakat. Dan partai politik pun menjadi kendaraan yang bisa bersaing sehat dan beradab, jauh dari praktik-praktik transaksional, guna meraih kekuasaan menuju pencapaian tertentu yang positif bagi masyarakat luas.

Oleh: Muchsin Ismail

Proaktif Dalam Pendidikan Anak

Manusia merupakan makhluk berpengetahuan dan kenapa begitu ia lahir disambut oleh keluarganya dengan suka cita. Memang pada kasus tertent...